Google+ Followers

Friday, 2 August 2013

Bercermin di Spion Motor..........

Mengenali dan memahami diri sendiri ternyata jauh lebih sulit dibandingkan memahami orang lain, memang sangat rumit….bila saya tidak bisa bilang bahwa saya tidak akan pernah mengetahui sama sekali….

Dan ini yang ingin saya coba , saya lakukan. Hanya saja saat ini saya mencoba masuk ke dalam diri saya sendiri. Saya ingin mencoba menempatkan diri saya pada sosok ‘ seorang yang berada di luar saya ‘. Seorang yang selalu berusaha memikirkan betapa kehidupan orang lain begitu mudahnya sementara ia tak juga mendapatkan apa yang diinginkan. Ini semacam cerminan diri. Apa yang terpantul oleh ‘ saya yang lain ‘ dalam sumringahnya adalah topeng dari kedengkian yang menyebar dalam iringan nafsu harapan. Sehingga kekalutannya membuatnya nampak seperti orang yang tidak bertanggung-jawab. Orang yang sombong dan egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri.

Tapi lihatlah, ia tak lagi punya waktu untuk berkhusyu’ diri berhadapan Tuhannya. Ayat – ayatNya terbaca dengan kecepatan detik yang menunggu di meja belajar anak, kursi merah , kamar tidur, ruang keluarga rumahnya. Tanpa jiwa. Ia menjadi manusia tanpa hati, orang asing untuk tetangga, untuk anak – anak kecil yang dulu selalu ia candai di sela – sela sore sepulang kerjanya. Ia sudah memusnahkan banyak waktu.

Seharusnya Tuhan marah padanya pikir saya akhirnya.
“ Siapa ? “
Sejumput suara aneh menghampiri saya,

” ya dia.... ”, saya menunjuk sosok yang terpaku di depan saya.

“ hm, tidakkah kau seharusnya mengenal dia ? “
Saya masih terpaku, sosok di depan saya masih menatap saya seperti saya menatapnya.
Saya harusnya mengenal dia. Tapi mengapa saya merasa aneh dengan diri saya, ada sesuatu yang asing dan berbeda dari orang di depan ini. Bila saya mengenal dia, maka elok sekali sikap saya yang sangat bergetar melihat tatapnya. Tingkahnya yang dingin dan tanpa senyum. Saya mengetahui dia adalah sosok yang malas. Tapi bukankah itu akan menyiksanya ?
” ha..ha...ha....”, suara yang entah tertawa terbahak – bahak. Hi, apakah ia berhasil membaca pikiran saya ?
“......tidak, tidak Daryadi. Aku tidak membaca atau mendengar apapun. Aku tahu saja.....ha..ha...ha...”, ia tergelak.

Saya mulai berkeringat gelisah. Suara itu hilang lagi. Saya mencari – cari. Hingga orang di hadapan saya pergi berpaling dengan wajah yang menunduk lelah. Dia mungkin lupa menyapa saya, atau entahlah ?

” Kau mengenal dia ? ”
Suara itu muncul dengan tanya.

” Heh, mungkin ? yang pasti saya berharap dia baik – baik saja, karena bila tidak....saya pikir dia akan sangat menderita bila tidak memperbaiki hidupnya....”

” Yach, Kau terlihat bijak dari dia ”, suara itu seperti seorang kawan yang duduk bersama dengan saya di bangku kosong sebuah taman yang lalu.

” Benarkah ? ”

Suara itu mengisyaratkan wajah yang tersenyum. Meskipun saya tak nampak ia. Lantas suara itu melambaikan perpisahan dengan saya
” Kau tak mengenal dia.....”
Lantas desiran angin mengayuh suara itu pergi. Meninggalkan saya seorang diri.

Hm, iya. Saya tak mengenal dia.

.........

Motor yang sempat saya bercermin dari kaca spionnya baru saja berlalu, dan saya merasa sudah cukup mengenali diri saya sendiri. Saya berharap saya bisa memperbaiki hidup. Setidaknya kembali menyediakan banyak waktu kembali pada-Nya.

Ini haruslah instropeksi, untuk saya mendewasakan hati.

Setelah ini saya akan mencari mimpi itu kembali - biarkan saya tidur kembali Tuan Putri.......

my videos

part 2