Google+ Followers

Friday, 2 August 2013

Sepenggal episode kehidupan.

"Lalu, inikah yang dinamakan takdir, jika segala daya telah kulakukan tuk ke luar dari kubangan masalah ini?" hatiku berbisik berat melempar tanya tak berkesudahan.

"Inikah titik henti di mana aku harus menyandarkan segala kepasrahan? Diam tak bergerak menunggu waktu mengejakan ketentuan yang harus dijalani."

Hening... Tak ada jawaban dari sudut mana pun di ruang jiwa, atau samar gema yang kuharap menyudahi tanya di pendaman rasa.

"Rabb...," tanpa kusadari, bibirku menyebut pilu asmaNya. "Salahkah aku jika meminta penjelasan terhadap apa yang kini sedang terjadi dalam hidupku, sebagai manusia biasa tanpa daya di balik upaya yang telah terjalani?"

Segumpal sesak menjalar sepenuh ruang dada. Menghimpitku pada sebuah keputusasaan yang terbayang di pelupuk mata. Terbingkai selembar masalah berlukis kisah tentang beban berat kehidupan seorang anak manusia yang menginjak dewasa.

"Rabb, jangan Engkau beri kami beban yang tak sanggup kami pikul," desahku pilu diringi butiran bening yang jatuh dari sudut mata.

Kembali aku larut dalam pengaduan kepadaNya. Berharap segumpal sesak kan terbuang di linangan air mata.

"Jauh di dasar hatiku, ya Rabb, ada asa yang masih menghujam kuat. Dan asa itu hanya aku sandarkan padaMu, wahai Pemilik Alam Raya, wahai Pemilik Kekuasan Tertiggi, wahai yang Mahabijkasana, wahai yang Maha Berkehendak."

"Mahasuci Engkau dari kesalahan. Kuatkan pijakan kaki ini, ya Rabb, dalam menjalani segala ketentuanMu. Jika dengan takdir ini, sejatinya Engkau sedang menempa jiwa kami agar kuat. Sungguh, ya Rabb, jangan jadikan ini beban berat yang mengikis Husnudzan-nya hati yang terluka."

"Rabb... KepadaMu kami menyembah dan kepadaMu kami mohon pertolongan. KepadaMu kami berlindung dari lemahnya iman dan buaian dunia yang melenakan."

"Rabb... Berkahi hidup kami. Aamiin."

my videos

part 2